Sabtu, 20 Mei 2017

Untuk Pak Ahok

Pak Ahok.
Kita tidak saling kenal. Saya tidak kenal Bapak, apalagi Bapak. Bapak jelas tidak kenal saya. Yang saya tahu Bapak adalah seorang pekerja keras dan tulus. Bapak bekerja untuk Jakarta setelah sebelumnya untuk Bangka Belitung, Bapak membawa perubahan untuk banyak orang, memberi mereka harapan untuk hidup yang lebih baik.

Pak Ahok.
Kadang niat baik kita tidak bisa sampai dengan baik pula ya, Pak? Kita juga tidak bisa memuaskan keinginan semua orang. Tapi selama niat kita baik dan jalan kita lurus, Tuhan pasti mempermudah.

Pak Ahok.
Beberapa waktu lalu, Jakarta sempat "panas". Dari mulai kisruh pilkada DKI Jakarta sampai kasus penistaan agama. Dan itu berdampak ke daerah-daerah lain di luar Jakarta.

Pak Ahok.
Saya seorang muslim. Islam adalah agama yang begitu saya junjung tinggi. Dan sebagai seorang muslim, saya tidak pernah merasa bahwa Bapak menista agama saya. Saya yakin Bapak tidak pernah punya niat untuk itu. Hanya saja mungkin saat itu kalimat yang Bapak lontarkan diartikan lain oleh beberapa umat Islam. Saya yakin Bapak tidak membenci Islam. Tidak kan, Pak? Walau kalimat Bapak akhirnya berbuntut panjang, membuat Bapak dicap sebagai penista agama. Berdampak pula pada kondisi negara kita. Negara kita memanas. Mereka yang pro Bapak menjadi musuh mereka yang kontra. Ujaran kebencian ada di mana-mana, bahkan di media sosial.

Pak Ahok.
Saya sedih, Pak. Saya sedih melihat kondisi bangsa kita. Sangat sedih. Tapi tulisan ini saya buat bukan untuk menyalahkan Bapak. Sama sekali bukan itu maksud saya.

Pak Ahok.
Saya Islam, Bapak Kristen. Saya Jawa, Bapak Cina. Kita berbeda, Pak. Tapi bukan hanya kita yang berbeda. Tuhan menciptakan manusia berbeda satu sama lain. Beda agama, budaya, warna kulit, dst dsb. Namun kita hidup di Indonesia, di tempat yang menjunjung tinggi prinsip "Bhinneka tunggal ika". Harusnya perbedaan itu tidak jadi masalah. Harusnya perbedaan itu justru menjadi kekuatan kita.

Pak Ahok.
Besar harapan saya untuk Indonesia. Indonesia yang maju, damai, sejahtera. Indonesia yang menjadi rumah yang aman dan nyaman untuk kita semua. Rumah di mana kita dilahirkan, rumah yang akan menjadi tempat kita kembali pulang.

Pak Ahok.
Tetaplah kuat, Pak. Tuhan tidak pernah tidur. Apa yang benar, akan Tuhan tunjukkan. Semoga Allah SWT. senantiasa melindungi Bapak.
Aamiin.

Selasa, 14 Maret 2017

Waktu Bekerja dengan (Sangat) Baik

Saya sekarang, setiap hari pakai rok. Padahal dulu, anti banget pakai rok kecuali rok sekolah (dan saat pekan UTS/UAS di kampus). Sampai beberapa teman saya, bahkan dosen pembimbing akademik bilang "Mbak Ay, coba belajar pakai rok ya. Pasti cantik."

Saya sekarang, rela "buang-buang waktu" di depan cermin untuk pasang make up setiap hari. Ya, setiap hari. Sampai rela menyisihkan uang demi bisa membeli perintilan make up yang lumayan menguras isi dompet. Padahal dulu, pakai bedak saja males.

Saya sekarang, rela memenuhi rangkaian skin care pagi dan malam setiap hari. Yang merasa bersalah pada diri sendiri jika sampai skip skin care harian. Padahal dulu, cuci muka pakai facial foam aja udah bagus banget.

Saya sekarang, yang sangat hati-hati saat bicara. Padahal dulu, Ya Allah nyablak banget gak ada filternya. :D

Saya sekarang, yang berpikir berulang kali sebelum melakukan sesuatu. Padahal dulu, grusa grusu gak ketolong.

Saya sekarang, yang bisa banget cengengesan bahkan tertawa ngakak saat mengingat hal menyakitkan. Padahal dulu, mau mati aja rasanya.

Jadi, apa yang merubah saya sampai bisa menjadi saya yang sekarang?

Yup, waktu!
Dia bekerja dengan sangat baik. Tidak tergesa, tidak juga terlambat. Dia bekerja dengan tepat, dengan sempurna. Dan saya sangat bersyukur atas tiap perubahan yang terjadi pada diri saya.

Terima kasih, waktu. Kamu layak diberi penghargaan. Dan penghargaan itu berupa janji. Janji saya untuk terus memperbaiki diri. Tidak akan saya biarkan kerja kerasmu untuk merubah saya selama ini sia-sia. :)