Kamis, 31 Desember 2015

Mengenai 2015

2015 adalah tahun pembelajaran.
Belajar menerima dan mensyukuri semua hal yang Tuhan sajikan dalam tiap episode kehidupan. Belajar memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri. Belajar melepaskan dan mengikhlaskan sesuatu yang tidak ditakdirkan untuk tergenggam. Belajar untuk tidak mengedepankan emosi. Belajar menghormati dan menghargai orang lain.

Harapan saya di tahun 2016?
Sederhana saja. Saya ingin menjadi saya dalam versi yang lebih baik. Saya yang bisa memanfaatkan waktu, tenaga, dan ilmu untuk kebaikan. Saya yang tanpa lelah menebar cinta kasih di tiap lini kehidupan.

.
.
.

2015, terima kasih telah menjadi tahun yang penuh warna. Kamu keren! Tidak ada yang tidak patut saya syukuri dari kamu.

Hai 2016, selamat datang.
Saya siap menyambutmu. Mari bersama merangkai cerita baru.

Bismillah.. :)

Jumat, 20 November 2015

Passenger - Let Her Go

Well you only need the light when it's burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you've been high when you're feeling low
Only hate the road when you're missing home
Only know you love her when you let her go
And you let her go

Staring at the bottom of your glass
Hoping one day you'll make a dream last
But dreams come slow and they go so fast

You see her when you close your eyes
Maybe one day you'll understand why
Everything you touch surely dies

But you only need the light when it's burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you've been high when you're feeling low
Only hate the road when you're missing home
Only know you love her when you let her go

Staring at the ceiling in the dark
Same old empty feeling in your heart
Cause love comes slow and it goes so fast

Well you see her when you fall asleep
But never to touch and never to keep
Cause you loved her too much and you dived too deep

Well you only need the light when it's burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you've been high when you're feeling low
Only hate the road when you're missing home
Only know you love her when you let her go

And you let her go
And you let her go
Well you let her go

Cause you only need the light when it's burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you've been high when you're feeling low
Only hate the road when you're missing home
Only know you love her when you let her go

Cause you only need the light when it's burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you've been high when you're feeling low
Only hate the road when you're missing home
Only know you love her when you let her go

And you let her go

Senin, 16 November 2015

5th

Malam selalu sukses memutar kenangan. Dan malam ini, waktu begitu memaksaku untuk menoleh kemudian memungut tiap keping kenangan yang tercecer di sepanjang perjalanan hidup, manis dan pahitnya. Aku tahu, ini jelas tidak baik, karena sama saja menggores luka yang bahkan belum kering. Tapi, ini inginku. Aku sadar betul akibatnya.

Dengan pasti ku balikkan badan kemudian berjalan menyusuri kenangan, tentu saja sambil menahan nyeri yang tiba-tiba menjalar memenuhi dada. Aku tidak berlebihan, nyeri itu ada, nyata! Tapi ini inginku.

Goresan makin dalam, luka kembali berdarah, sakit. Tapi ini inginku. Aku bukan ingin menyakiti diri sendiri, hanya ingin tahu seberapa kuat aku bertahan. Tuhan masih di sisi, dan aku baik-baik saja.

Sampai pada akhirnya, ku pungut satu persatu kenangan yang berceceran di belakangku. Hei, ini janjiku. Janji yang aku ucapkan pada diriku sendiri, dulu. Di tengah kekecewaan, amarah, dan tangis. Bahwa akan ada masa dimana aku akan menertawakan semua hal yang pernah membuatku begitu terpuruk.
.
.
.
Karena satu hal yang tidak bisa dihindari, masing-masing dari kita pasti akan menjadi masa lalu, entah untuk dikenang atau dilupakan. Tapi, sebaik-baiknya masa lalu adalah yang bisa memberi pelajaran, kan? :)

Senin, 02 November 2015

Surprise

Hai. Aku kaget lho..
Kaget sambil berharap bahwa ini tidak nyata. Tapi ah, siapalah aku ini? Jelas bukan siapa-siapa, dan tentu tidak ada apa-apanya.

Aku tidak akan pura-pura tidak kecewa. Tapi untuk marah dan sakit hati, jelas tidak. Karena aku sama sekali tidak punya hak.
Kamu kumiliki hanya sebatas mimpi dan angan, namun keduanya memang terlalu berlebihan. Dan ya, ini risikonya.

Berbahagialah, hai kamu yang selalu menciptakan debar di tiap interaksi kita.
Bersama ini kulepaskan harapan dan do'a yang sempat tergenggam. Membiarkannya membumbung dan semoga sampai di tangan Tuhan.
Kenyataan tidak berpihak kepadaku, sekali lagi.

Minggu, 01 November 2015

Bebe

Jika suatu saat kamu sempat membaca tulisan ini, maka aku pastikan bahwa ini tentang kamu. Seluruhnya. :)

Hai, Be.
Masih nyata dalam ingatan saat Tuhan mempertemukan kita 3 tahun lalu, di kantor BKMA. Kamu sok cool saat itu. Sampai saat kamu menjadi bulan-bulanan anak-anak sekantor karena kisah cintamu yang kandas, aku tahu kamu tidak se-cool itu. Ehehe..

Time flies..
Kamu yang aku kenal sekarang, masih kamu yang dulu. Kamu yang sepikable sekaligus bullyable. Yup, aku pernah bilang jika kamu satu-satunya temanku yang paling enak dibully. Remember?

Ah, Be.
Ada banyak hal tentang kamu yang harusnya bisa aku tulis di sini. Tapi entahlah, ideku mandek. Mungkin karena kamu lebih dari sekedar rangkaian kata.

Be.
Kamu tahu, untuk semua hal yang baik bagimu, maka aku tak akan segan mendukung dan mengamini. Melangkahlah lebih tegap, berlarilah jika harus. Namun satu hal, Be. Menolehlah sesekali kepada mereka di belakangmu. Mereka yang tak henti merapal do'a untuk kesehatan, kesuksesan, dan kebahagiaanmu. Mereka yang mencintaimu tanpa tapi.

Berbahagialah, Be.

Rabu, 28 Oktober 2015

Para Penantang Krisis

Koran pagi ini beda. 
Jawa Pos, dengan tema 87 Tahun Sumpah Pemuda. Halaman 17-36 dipenuhi dengan kisah-kisah inspiratif dari orang-orang hebat di negeri ini. Menarik!

Bidang lingkungan, ada Erni Suyanti dan dedikasinya terhadap satwa liar di Bengkulu, Wiwiek Anggraini dan kerelaannya menjadi relawan pemadam karhutla di Riau, Ikhwan Arief yang pantang menyerah dalam melestarikan terumbu karang, serta Youth Food Movement yang merupakan gerakan anak muda pro kedaulatan pangan.

Bidang otomotif, dengan deretan mobil Honda dan paket promo spesial akhir tahun (ini promosi :D) dan PT. Astra Honda Motor dengan komitmen keselamatan berkendara yang diusungnya.

Bidang pendidikan, ada Nur Fadli yang membangun 10 sekolah di lereng Gunung Argopuro dan Undang Suryaman yang mendirikan TK dari penghasilannya sebagai juru parkir di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran.

Bidang seni, ada Pandji Pragiwaksono dengan strateginya mengalahkan pembajakan. Selain itu, ada Sinta Tantra yang mengenalkan seni kontemporer di London.

Bidang bisnis, ada Michael Wijaya yang menghadirkan produk Indonesia di Amerika, Hardini Puspasari yang menjaga bisnis di tengah lemahnya rupiah, serta Yasa Paramita Singgih yang sukses menjadi pengusaha di usia 20 tahun.

Bidang sosial, ada Hari Kurniawan yang memiliki keterbatasan fisik namun mampu menjadi advokat yang berjuang untuk seluruh lapisan masyarakat, Tarno yang membangun irigasi secara swadaya, serta kumpulan anak muda yang bekerja keras mengubah kampung dolly menjadi pusat edukasi.

Bidang olahraga, ada Greysia Polli yang sukses mengharumkan nama bangsa dan Bambang Bayu Saptaji yang menjadi pemain futsal profesional Indonesia pertama di luar negeri.

Ah, inspiring!!

Di antara beberapa bidang yang telah saya tulis di atas, pendidikan adalah yang paling mencuri perhatian saya. Kisah 2 orang pejuang pendidikan dengan segala keterbatasan mereka sukses membuat saya merasa ditampar, sangat keras. Ya, saya malu. Sebagai seorang guru, saya masih sering mengeluh tentang banyak hal. Ya Allah, betapa saya tidak bersyukur atas apa yang saya dapat selama ini. Astaghfirullah..

.
.
.

Hei kalian para penantang krisis, terima kasih. Terima kasih telah mengispirasi. Terima kasih telah menularkan semangat pantang menyerah. Terima kasih telah mengajarkan bagaimana tetap berjuang walau dengan segala keterbatasan yang melekat dalam diri. Terima kasih. :)

Selasa, 27 Oktober 2015

:)

Tuhan..
Engkau berkali-kali tidak mengabulkan doaku. Bahkan pernah Engkau mengambil sesuatu yang berharga dariku, menghempaskan aku ke titik terendah dalam hidup. Tapi Engkau dengan tanpa pertanda menggantinya dengan sesuatu yang justru jauh lebih baik, yang bahkan tidak sempat terpikir untuk aku sebut dalam do'a. Ah, Engkau memang penuh kejutan. Dengan caraMu yang begitu unik Engkau membuka mata dan menyadarkan aku bahwa betapa aku memiliki Tuhan yang Maha Ada, Maha Baik, dan Maha Ajaib.
Terima kasih..

Sabtu, 24 Oktober 2015

My Little Sister

Jadi, beberapa hari terakhir ini saya intens berkomunikasi lagi dengan seseorang yang pernah dekat baik secara fisik maupun emosional. Ya, Wiwis! Bocah satu ini sukses mencuri hati saya. Dan tanpa ragu saya berani bilang bahwa "yes, I love her".
Tuhan mempertemukan kami 10 tahun lalu. Nothing special, teman kost biasa. Namun seiring berjalannya waktu, kami disatukan oleh banyak cerita. Ya, cerita yang seringkali kami bagi. Sampai pada saat saya menangis mendengar kisah yang dia bagi (sambil menangis). Tidak ada yang ingin saya lakukan saat itu selain memeluk dan memastikan bahwa semua akan baik-baik saja. Bahwa dia memiliki saya yang siap menjadi apapun yang dia butuhkan.

Sampai Tuhan membuat kami berjarak, dan hampir sama sekali tidak berkomunikasi karena kesibukan kami masing-masing. Tapi satu hal yang tidak pernah terkikis, rasa haru yang tiba-tiba menyeruak serta air mata yang tumpah tiap kali dia memanggil saya "Biyuk". Bahkan sampai detik saya menulis tentang dia di blog ini, saya tidak bisa untuk tidak menangis. Lebay? Ah, buat saya rasa sayang tidak ada yang lebay. :)

Dan, baru saja saya mendapat kabar bahwa Wiwis tengah bersiap untuk menjalankan tugas sebagai pengajar Bahasa Indonesia di Thailand. Cool, huh?

Ah, Dedekku sayang. Betapa Biyuk bangga padamu. Lanjutkan langkahmu, berlarilah sesekali. Genggam dunia, namun tetap takutlah pada Tuhan.

I love you.

Rabu, 21 Oktober 2015

Debar yang sama

Masih debar yang sama.
Ya! Setelah pertemuan terakhir kita, sore itu. Pertemuan tanpa kata, bahkan "hai"pun gagal terucap. Persis sesuai prediksiku, pertemuan datar. Tapi debar itu masih terasa, sama. Tak ada bedanya seperti belasan tahun lalu. Dan aku, dengan lancang berani berharap "kamu adalah keajaiban yang sengaja dirancang Tuhan untuk melengkapi hidupku". Harus aku akui, kamu memang bangsat. Hadir sebagai teman kecil, bersaing memperebutkan ranking di kelas, kemudian bertingkah layaknya kita tak saling kenal, lalu menghilang. Tapi tiap kali kamu muncul, debar itu selalu ada, sama saja. Aku gagal. Ya, gagal menghapusmu..

Senin, 19 Oktober 2015

Rumah

Kamu sudah ku buatkan rumah di sini, di hatiku. Aku bangun dengan susah payah. Berpondasikan cinta dan kepercayaan. Ku tambah doa dan pengharapan yang tak kalah banyaknya. Ini rumahmu, karena aku ingin akulah satu-satunya tempatmu kembali pulang setelah lelah dipermainkan hari. Namun aku tak akan memaksamu untuk tinggal. Jika kamu tak nyaman di dalamnya, kamu boleh pergi. Tapi ingatlah selalu, kamu punya rumah. Di sini.

Melepaskan

Melepaskan ternyata tidak hanya sepaket dengan mengikhlaskan. Tapi juga menahan rindu yang seringkali muncul tiba-tiba.

Welcome

Well, ini blog pertama saya. Iya, saya baru punya blog. Terlambat? Yeaaah, you can say that. But let me tell you something, saya agak gak PD saat tulisan saya dibaca orang lain. Haha. Tapi itu dulu, sekarang mindset saya berubah menjadi... jika menulis bisa menjadi ladang saya untuk berbagi rasa dan pada akhirnya (semoga) bisa menginspirasi orang lain, why not?? :)

Bismillah..