Jumat, 20 November 2015

Passenger - Let Her Go

Well you only need the light when it's burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you've been high when you're feeling low
Only hate the road when you're missing home
Only know you love her when you let her go
And you let her go

Staring at the bottom of your glass
Hoping one day you'll make a dream last
But dreams come slow and they go so fast

You see her when you close your eyes
Maybe one day you'll understand why
Everything you touch surely dies

But you only need the light when it's burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you've been high when you're feeling low
Only hate the road when you're missing home
Only know you love her when you let her go

Staring at the ceiling in the dark
Same old empty feeling in your heart
Cause love comes slow and it goes so fast

Well you see her when you fall asleep
But never to touch and never to keep
Cause you loved her too much and you dived too deep

Well you only need the light when it's burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you've been high when you're feeling low
Only hate the road when you're missing home
Only know you love her when you let her go

And you let her go
And you let her go
Well you let her go

Cause you only need the light when it's burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you've been high when you're feeling low
Only hate the road when you're missing home
Only know you love her when you let her go

Cause you only need the light when it's burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you've been high when you're feeling low
Only hate the road when you're missing home
Only know you love her when you let her go

And you let her go

Senin, 16 November 2015

5th

Malam selalu sukses memutar kenangan. Dan malam ini, waktu begitu memaksaku untuk menoleh kemudian memungut tiap keping kenangan yang tercecer di sepanjang perjalanan hidup, manis dan pahitnya. Aku tahu, ini jelas tidak baik, karena sama saja menggores luka yang bahkan belum kering. Tapi, ini inginku. Aku sadar betul akibatnya.

Dengan pasti ku balikkan badan kemudian berjalan menyusuri kenangan, tentu saja sambil menahan nyeri yang tiba-tiba menjalar memenuhi dada. Aku tidak berlebihan, nyeri itu ada, nyata! Tapi ini inginku.

Goresan makin dalam, luka kembali berdarah, sakit. Tapi ini inginku. Aku bukan ingin menyakiti diri sendiri, hanya ingin tahu seberapa kuat aku bertahan. Tuhan masih di sisi, dan aku baik-baik saja.

Sampai pada akhirnya, ku pungut satu persatu kenangan yang berceceran di belakangku. Hei, ini janjiku. Janji yang aku ucapkan pada diriku sendiri, dulu. Di tengah kekecewaan, amarah, dan tangis. Bahwa akan ada masa dimana aku akan menertawakan semua hal yang pernah membuatku begitu terpuruk.
.
.
.
Karena satu hal yang tidak bisa dihindari, masing-masing dari kita pasti akan menjadi masa lalu, entah untuk dikenang atau dilupakan. Tapi, sebaik-baiknya masa lalu adalah yang bisa memberi pelajaran, kan? :)

Senin, 02 November 2015

Surprise

Hai. Aku kaget lho..
Kaget sambil berharap bahwa ini tidak nyata. Tapi ah, siapalah aku ini? Jelas bukan siapa-siapa, dan tentu tidak ada apa-apanya.

Aku tidak akan pura-pura tidak kecewa. Tapi untuk marah dan sakit hati, jelas tidak. Karena aku sama sekali tidak punya hak.
Kamu kumiliki hanya sebatas mimpi dan angan, namun keduanya memang terlalu berlebihan. Dan ya, ini risikonya.

Berbahagialah, hai kamu yang selalu menciptakan debar di tiap interaksi kita.
Bersama ini kulepaskan harapan dan do'a yang sempat tergenggam. Membiarkannya membumbung dan semoga sampai di tangan Tuhan.
Kenyataan tidak berpihak kepadaku, sekali lagi.

Minggu, 01 November 2015

Bebe

Jika suatu saat kamu sempat membaca tulisan ini, maka aku pastikan bahwa ini tentang kamu. Seluruhnya. :)

Hai, Be.
Masih nyata dalam ingatan saat Tuhan mempertemukan kita 3 tahun lalu, di kantor BKMA. Kamu sok cool saat itu. Sampai saat kamu menjadi bulan-bulanan anak-anak sekantor karena kisah cintamu yang kandas, aku tahu kamu tidak se-cool itu. Ehehe..

Time flies..
Kamu yang aku kenal sekarang, masih kamu yang dulu. Kamu yang sepikable sekaligus bullyable. Yup, aku pernah bilang jika kamu satu-satunya temanku yang paling enak dibully. Remember?

Ah, Be.
Ada banyak hal tentang kamu yang harusnya bisa aku tulis di sini. Tapi entahlah, ideku mandek. Mungkin karena kamu lebih dari sekedar rangkaian kata.

Be.
Kamu tahu, untuk semua hal yang baik bagimu, maka aku tak akan segan mendukung dan mengamini. Melangkahlah lebih tegap, berlarilah jika harus. Namun satu hal, Be. Menolehlah sesekali kepada mereka di belakangmu. Mereka yang tak henti merapal do'a untuk kesehatan, kesuksesan, dan kebahagiaanmu. Mereka yang mencintaimu tanpa tapi.

Berbahagialah, Be.