Selasa, 25 September 2018

Aku Tidak Suka

Aku tidak suka ada dia di dekatmu.
Dia yang berusaha keras menarik perhatianmu.
Rasanya ingin sekali kujambak rambutnya hingga rontok, terlepas dari kulit kepala.

Aku tidak suka ada dia di sampingmu.
Dia yang berusaha sedekat mungkin denganmu hingga tak ada celah untukku.
Harusnya aku yang di sana.
Aku yang membuatmu tertawa lepas hingga kram perut, seperti biasa.
Harusnya aku!

Aku tidak suka ada dia di sekitarmu.
Tidak suka!
Biar saja kamu anggap aku aneh.
Ya, aku memang setidakrela itu melihat kamu tertawa tapi tidak denganku.

Jangan tanya kenapa!

Selasa, 11 September 2018

Senjamu, Lukamu

Hai, apa kabar?

Sebentar lagi senja tiba.

Masihkah kamu orang yang sama, yang duduk di pinggir jendela bersama secangkir kopi, lalu darinya kamu kembali terinspirasi untuk sekali lagi menenun aksara?

Masihkah kamu orang yang sama, yang percaya bahwa ada yang lebih pahit dari kopi yang kamu seduh tanpa gula? Ya, perasaan rindu yang bahkan tidak sanggup kamu sampaikan.

Masihkah kamu orang yang sama, yang memilih untuk diam daripada menerima kenyataan bahwa ternyata bukan kamu yang dia tuju?

Senja tidak akan datang terlalu lama, kan?
Perlahan langit merah akan padam, namun tidak dengan luka itu.
Luka yang nyata terlihat, pecah terbelah di matamu.
Senja tidak mengobati, malampun tidak mengakhiri.
Kamu dan lukamu, lebur menjadi satu.

Sabtu, 08 September 2018

Sepi itu Indah

Sepi itu indah, percaya saja.
Bersamanya kamu bisa mengurai banyak makna.
Meramu kata, pun membalut luka.

Sepi itu indah, percaya saja.
Dia memberimu waktu untuk sejenak melupakan riuh dunia.
Dia menyediakan ruang bagimu untuk menjadi dirimu sendiri, apa adanya.

Sepi itu indah, percaya saja.
Kamu bebas mengalirkan isi kepala, tak bermuara.
Kamu bisa dengan jelas mendengarkan hatimu, berbincang dengannya dalam hening tanpa suara.

Sepi itu indah, percaya saja.
Kamu akan menemukan sosok yang benar-benar ada.
Yang datang tanpa kamu minta, tanpa aba-aba.

Selasa, 30 Januari 2018

Kegalauan Lanjut Sekolah

Melanjutkan sekolah ke jenjang magister adalah salah satu keinginan saya, dulu. Tapi yaaa, sekedar pengen aja dan ga sampe gimana-gimana. Sampai pada akhirnya ibu saya menawarkan kesempatan untuk lanjut kuliah tepat saat saya baru lulus jadi sarjana and I was like "Ya Allah, baru aja kelar revisi skripsi udah disuruh belajar lagi." Dengan alasan pengen cari pengalaman kerja dulu, saya bilang sama ibu "Nanti dulu deh, 1-2 tahun lagi baru lanjut S2, pengen kerja dulu." Lha kok, 2 tahun kemudian ga ada tawaran lagi. Yaudadeh, kayaknya ga jadi nih lanjut S2. :D

Fyi, saya lulus S1 tahun 2013 dan kesempatan kedua untuk lanjut sekolah datang 4 tahun kemudian tepatnya tahun 2017. Ya, bertepatan dengan hari raya Idul Fitri. Tanggal 25 Juni 2017 ibu saya memberi kesempatan kedua. *tsaaaah
Karena saya pikir belum tentu ada kesempatan ketiga, tanpa banyak alasan saya jawab "iya" aja. Walau belum yakin, jawab iya aja dulu.

Nah, setelah jawab "iya" itu saya baru kepikiran banyak hal. Buanyaaaak sekali yang saya pikirkan. Mulai dari biaya yang ga sedikit, waktu, jadwal kuliah yang bentrok dengan jadwal ngajar, dan kemampuan saya untuk menjalani semuanya dengan balance. Dan itu lumayan bikin galau sih. Tapi, alhamdulillah saya berada di sekitar orang-orang yang selalu mendukung saya dengan penuh. Mulai dari keluarga, sahabat, rekan kerja, teman main, semuanya mendukung dan mendoakan. Allah benar-benar melancarkan langkah awal saya untuk lanjut sekolah. Semuanya terasa begitu mudah tanpa hambatan, termasuk jadwal mengajar saya di sekolah yg langsung dirombak untuk menyesuaikan jadwal kuliah. Thank you, Pak Waka Kurikulum. :)

Namun kegalauan itu tidak serta merta hilang. Sampai saat hari saya mendaftar secara online, saya masih ga yakin tapi tetep nekat daftar. Pendaftaran berhasil, step selanjutnya pembayaran, galau lagi, tapi tetep berangkat ke BNI sih haha. Setelah bayar kan harus kirim bekas ke UMM, nah di jalan menuju kantor pos itu saya masih mikir "beneran sekolah lagi nih?". Nah, puncak kegalauan saya itu pas mau tes di kampus Pascasarjana UMM. Asli itu saya lebay banget, ketakutan sampe ga selera makan dan susah tidur. Takut ga diterima gitu deh. Lebay ya? Iya emang. Cenderung norak malah. :D

Tanggal 25 Juli 2017, saya diterima sebagai mahasiswa pascasarjana UMM. Alhamdulillah, bahagia. Kegalauan dan kelebayan saya terbayar lunas haha.
.
.
.
Hari ini, saya telah menyelesaikan semester 1 dengan baik. Semester 1 yang penuh perjuangan dan drama. Nilai juga sudah saya dapat. Alhamdulillah sangat memuaskan. Saya bersyukur sekali bahwa perjuangan dan kerja keras saya dibalas oleh Allah, dengan indah.

Namun, lebih dari itu, hal yang begitu saya syukuri adalah kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Yang di dalam prosesnya saya bertemu dengan banyak orang hebat dan belajar banyak dari mereka.

Saya tidak akan puas dengan pencapaian saya di semester ini, because I know it is just the beginning. Saya yakin ada hal yang lebih berat di semester depan. Dan ya, saya siap. :)

Bismillah..

Kita Bertemu

Kita, dua orang yang dipertemukan pada suatu hari. Setelah itu, ada hari-hari berikutnya yang juga sudah direncanakan Tuhan. Saya, kamu, menjadi kita.

Kita, dua orang yang jelas tidak sempurna. Yang masing-masing hatinya pernah retak dan nyaris hancur. Namun Tuhan membuat kita bertemu untuk saling menyembuhkan, merawat, dan memastikan tak ada lagi luka menyayat.

Hadirmu adalah jawaban atas rentetan doa dan tetesan air mata saya dalam sujud. Ya, kamu adalah doa yang terkabul. Kamu dan semua yang ada dalam dirimu adalah sesuatu yang akan saya terima, cintai, dan syukuri sepenuhnya sebagai bagian yang akan melengkapi hidup saya.

Hai, kamu.
Terima kasih telah bersedia hadir dan berjanji untuk tetap tinggal. Janjimu disaksikan Tuhan. :)