Senin, 16 November 2015

5th

Malam selalu sukses memutar kenangan. Dan malam ini, waktu begitu memaksaku untuk menoleh kemudian memungut tiap keping kenangan yang tercecer di sepanjang perjalanan hidup, manis dan pahitnya. Aku tahu, ini jelas tidak baik, karena sama saja menggores luka yang bahkan belum kering. Tapi, ini inginku. Aku sadar betul akibatnya.

Dengan pasti ku balikkan badan kemudian berjalan menyusuri kenangan, tentu saja sambil menahan nyeri yang tiba-tiba menjalar memenuhi dada. Aku tidak berlebihan, nyeri itu ada, nyata! Tapi ini inginku.

Goresan makin dalam, luka kembali berdarah, sakit. Tapi ini inginku. Aku bukan ingin menyakiti diri sendiri, hanya ingin tahu seberapa kuat aku bertahan. Tuhan masih di sisi, dan aku baik-baik saja.

Sampai pada akhirnya, ku pungut satu persatu kenangan yang berceceran di belakangku. Hei, ini janjiku. Janji yang aku ucapkan pada diriku sendiri, dulu. Di tengah kekecewaan, amarah, dan tangis. Bahwa akan ada masa dimana aku akan menertawakan semua hal yang pernah membuatku begitu terpuruk.
.
.
.
Karena satu hal yang tidak bisa dihindari, masing-masing dari kita pasti akan menjadi masa lalu, entah untuk dikenang atau dilupakan. Tapi, sebaik-baiknya masa lalu adalah yang bisa memberi pelajaran, kan? :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar