Masih debar yang sama.
Ya! Setelah pertemuan terakhir kita, sore itu. Pertemuan tanpa kata, bahkan "hai"pun gagal terucap. Persis sesuai prediksiku, pertemuan datar. Tapi debar itu masih terasa, sama. Tak ada bedanya seperti belasan tahun lalu. Dan aku, dengan lancang berani berharap "kamu adalah keajaiban yang sengaja dirancang Tuhan untuk melengkapi hidupku". Harus aku akui, kamu memang bangsat. Hadir sebagai teman kecil, bersaing memperebutkan ranking di kelas, kemudian bertingkah layaknya kita tak saling kenal, lalu menghilang. Tapi tiap kali kamu muncul, debar itu selalu ada, sama saja. Aku gagal. Ya, gagal menghapusmu..
Rabu, 21 Oktober 2015
Debar yang sama
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar